Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech
Selamat Datang
Selamat datang di website Bidang P2PL DInas Kesehatan Prov Kepri
Visi DInkes Prov Kepri

Cegah Difteri, Respon Dinas Kesehatan Proivinsi Kepri

Cegah Difteri, Respon Dinas Kesehatan Proivinsi Kepri

Penyebaran difteri sudah sangat meluas di Indonesia, khusus di Provinsi Kepri ada 5 (lima) kasus yang dilaporkan Ke Kementerian Kesehatan RI sebagai Suspek Klinis Dipteri. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 1501 tahun 2010, 1 (satu) kasus saja dilaporkan sebagai Kasus Klinis Difteri maka harus dilakukan penanggulangan yang komprehensif terhadap kasus, kontak erat dan lingkungan tempat tinggal kasus.

Respon yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Rumah Sakit dan Puskesmas dalam menanggulangi dan mencegah kasus Suspek Klinis Difteri adalah sebagai berikut :

  1. Respon tatalaksana pada kasus Suspek Klinis Difteri yaitu : isolasi penderita, terapi serum antitoksin dipteri, terapi antibiotik dan pengambilan sampel swab untuk dikirimkan ke Laboratorium Nasional di Jakarta.
  2. Respon kesehatan masyarakat :
    1. Penyelidikan epidemiologi dilakukan untuk mengenal sifat-sifat, penyebab, sumber dan cara penularan serta faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya penyakit.
    2. Identifikasi kontak erat untuk dilakukan tatalaksana kontak erat dalam memutus rantai penularan dengan memberikan profilaksis dan pengambilan sampel swab yang juga dikirimkan ke Laboratorium nasional di Jakarta.
    3. KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi) ke masyarakat dilakukan dengan memberikan informasi melalui media cetak dan media elektronik.
    4. Upaya peningkatan cakupan imunisasi (<7 tahun DT dan > 7 tahun dT) melalui sweeping, dan meningkatkan imunisasi DPT rutin.
    5. Akan melakukan ORI (Outbreak Response Imuniation) pada daerah yang telah dinyatakan KLB sesuai dengan rekomendasi komite ahli penanggulangan dipteri
  3. Melakukan rapat penanggulangan dan pencegahan Difteri dengan lintas sektor dan program karena penanganan yang dilakukan harus secara komprehensif.

Dari 5 (lima) kasus yang dilaporkan sebagai Suspek Klinis Difteri dan telah dilakukan pengambilan sampel swab dan telah dikirimkan ke Laboratorium Nasional Di Jakarta diketahui hasilnya bahwa 4 (empat) kasus dinyatakan Negatif Difteri dan 1 (satu) kasus masih dalam proses pemeriksaan di Laboratorium Nasional.

Hasil Laboratorium untuk kasus-kasus suspek klinis difteri di Kepri walaupun Negarif, tetapi akan tetap dilakukan kewaspadaan dini terhadap kasus Difteri dengan melakukan hal-hal sebagai berikut :

  1. RUMAH SAKIT
    1. Melaksanakan fungsi surveilans baik aktif maupun pasif kasus Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) dengan menunjuk minimal 1 orang petugas sebagai penanggung jawab sureilans.
    2. Menjaga kualitas vaksin dalam kondisi poten dengan menjaga ratai dingin dan pengelolaan vaksin sesuai standar yang berlaku.
    3. Melakukan penyuntikan yang aman dalam pelayanan imunisasi sesuai SOP yang berlaku dan selalu mengantisipasi dengan kit anaphylactic shock.
    4. Wajib menyediakan dan mempersiapkan ruang isolasi untuk pasien kasus difteri baik suspek maupun konfirmasi laboratorium.
    5. Melakukan pemberian imunisasi bagi petugas kesehatan, diutamakan pada petugas medis dan paramedis yang beresiko dalam melaksanakan pelayanan di IGD, Ruang Rawat Inap Anak dan Dewasa, Petugas Laboratorium dan Petugas Ruang Isolasi.
    6. Bila ditemukan pasien dengan suspek Difteri, pengobatan yang diberikan mengacu pada Rekomendasi Ahli.
  2. DINAS KESEHATAN
    1. Melaksanakan fungsi sureilans baik aktif maupun pasif kasus Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I), memonitor website surveilans dan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR).
    2. Tetap melakukan penguatan imunisasi meliputi : Imunisasi Dasar (<12 bulan), Imunisasi Lanjutan Baduta (18 bulan), Imunisasi Lanjutan pada Anak Sekolah (Kelas 1,2,5 SD), Imunisasi Lanjutan pada Wanita Usia subur (WUS).
    3. Menurut rekmendasi komite ahli penanggulangan difteri untuk memutuskan rantai penularan adalah :
      1. Yang paling baik adalah Imunisasi Rutin dengan cakupan minimal 90%
      2. Melakukan Rapid Convinience Assesment (RCA) imunisasi di wilayah kasus, pada saat penyelidikan epidemiologi sebelum ORI dilakukan
  • Segera lakukan Outbreak Response Imunization (ORI) dengan ketentuan :
    1. Dalam waktu sesingkat-singkatnya setelah KLB diumumkan
    2. Luasnya ORI adalah pada wilayah KLB minimal 1 wilayah Puskesmas/kecamatan
    3. Pemberian profilaksis pada kontak dengan Penisilin Prokain atau dengan E
  1. Melakukan Pembinaan, Pengawasan dan Pengendalian (Binwasdal) secara rutin dan berkala di Rumah Sakit baik pemerintah dan swasta, klinik, puskesmas, bidan praktek mandiri dan fasilitas kesehatan lainnya terhadap kualitas vaksin dan rantai dingin untuk mengurangi faktor resiko penurunan kualitas imunisasi.
  2. Menindaklanjuti setiap temuan yang tidak sesuai dengan SOP baik dari segi pelayanan maupun administrasi
  3. Meningkatkan peran lintas sektor dan stakeholder di luar kesehatan untuk melakukan komunikasi resiko secara aktif pada masyarakat berupa pemberian informasi tentang penyakit Difteri dan pencegahan dengan melakukan imunisasi lengkap.
  1. PUSKESMAS
    1. Melaksanakan fungsi sureilans baik aktif maupun pasif kasus Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I), dengan menunjuk minimal 1 orang petugas sebagai penanggung jawab sureilans, memonitor website surveilans dan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR).
    2. Tetap melakukan penguatan Imunisasi Rutin : Imunisasi Dasar, Imunisasi Lanjutan, Imunisasi Lanjutan Anak Sekolah.
    3. Meningkatkan cakupan imunisasi dengan melakukan :
      1. DOFU (Drop Out Follow Up)/Sweeping : melengkapi imunisasi anak di bawah umur 1 (satu) tahun baik yang pernah kontak dengan pelayanan imunisasi maupun yang belum pernah.
      2. BLF (Back Log Fighting) : melengkapi imuisasi anak dari umur 1 tahun s.d 3 tahun (2 tahun 11 bulan 29 hari) dengan antigen DPT-HB-Hib, Polio dan Campak.
  • Crash Program/Kampanye Imunisasi : melengkapi imunisasi untuk daerah yang tidak UCI/IDL 3 tahun berturut.
Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech