Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech
Selamat Datang
Selamat datang di website Bidang P2PL DInas Kesehatan Prov Kepri
Visi DInkes Prov Kepri

Gambaran Kasus Dipteri di Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2017

Gambaran Kasus Dipteri di Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2017

Difteri merupakan penyakit infeksi akut dengan gambaran klinis berupa inflamasi sekitar fokal infeksi dan gambaran sistemik yang dihubungkan dengan penyebaran dan efek toksin difteri. Penyakit ini biasanya menyerang saluran nafas atas, namun beberapa kasus juga ditenmukan di kulit dan organ lain. Difteri mudah menular memalui udara dengan masa inkubasi antara 1-10 (tersering 2-5) hari dan biasanya menyerang anak-anak, meskipun dapat juga terjadi pada orang dewasa. Kematian kasus (CFR/Case Fatality Rate) akibat difteri sekitar 3-10% dari seluruh kasus, bahkan pada kasus yang sangat berat bisa mencapai 100%. Kematian terjaddi umumnya karena gangguang pernafasan dan kardiovaskuler.

Defenisi kasus suspek Difteri adalah demam di atas 38°C, sakit menelan, sesak napas disertai bunyi (stridor) dan ada tanda selaput putih keabu-abuan (pseudomembran) di tenggorokan dan pembesaran kelenjar leher. Faktor risiko Difteri antara lain kurangnya cakupan imunisasi (DPT), lingkungan yang penuh sesak, kebersihan yang buruk, kontak dengan penderita dan pembawa (carrier).

Secara nasional dalam kurun waktu 2014-2016 ditemukan kasus dipteri rata-rata sebanyak 37 kasus yang penyebarannya meningkat dari 11 provinsi di tahun 2014 menjadi 21 provinsi di tahun 2016. Sedangkan untuk di Provinsi Kepulauan Riau terdapat 1 (satu) kasus dipteri pada tahun 2016 di Kota Batam dengan 1 (satu) kematian.

Pada tahun 2017 berdasarkan data surveilans PD3I dan PHEOC Kementerian Kesehatan RI s.d minggu 44 (bulan Oktober) diketahui bahwa kasus dipteri sudah menyebar ke 23 provinsi di Indonesia dengan jumlah kasus 613 dan 32 kematian. Untuk provinsi Kepulauan Riau dilaporkan adanya 1 (satu) suspek dipteri klinis dari Kabupaten Karimun, 2 (dua) di Kota Tanjungpinang dan 2 (dua) di Kabupaten Bintan.

Berikut gambaran kasus dipteri di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2017 :

No

Kabupaten

/Kota

Jenis

Kelamin

Umur

Tanggal Kejadian

Pengambilan Swab Kasus & Kontak

1.

Karimun

Laki-laki

4 tahun

28/11/ 2017

30/11/ 2017

2.

Tanjungpinang

Laki-laki

33 tahun

11/12/ 2017

11/12/ 2017

   

Laki-laki

4 tahun

19/12/ 2017

19/12/ 2017

3.

Bintan

Perempuan

63 tahun

10/12/ 2017

12 /12/ 2017

   

Perempuan

31 Tahun

11/12/ 2017

12/12/ 2017

Satu kasus dipteri klinis dinyatakan KLB sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 1501 tahun 2010, maka harus dilakukan penanggulangan yang komprehensif terhadap kasus, kontak erat ddan lingkungan tempat tinggal kasus.

Respon yang harus dilakukan jika ditemukan kasus Suspek Klinis dipteri adalah sebagai berikut :

  1. Respon tatalaksana kasus : Isolasi penderita, Terapi serum antitoksin dipteri, Terapi antibiotik, Imunisasi aktif (Td) pada fase konvalesen, Memutus rantai penularan, Lakukan tata laksana untuk kontak kasus
  2. Respon kesehatan masyarakat : Penyelidikan epidemiologi, Identifikasi kontak erat, Penatalaksanaan kontak untuk pengambilan usap nasofarings dan profilaksis, Hindari kontak erat dengan individu terimunisasi tidak lengkap, KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi) ke masyarakat, Upaya peningkatan cakupan imunisasi (<7 tahun DT dan > 7 tahun dT) melalui sweeping, Meningkatkan imunisasi DPT rutin, Lakukan pemantauan harian kepada kontak untuk memastikan obat profilaksis diminum dengan teratur.

Berdasarkan rekomendasi komite ahli penanggulangan dipteri untuk memutuskan rantai penularan tindakan yang harus dilakukan adalah :

  1. Imunisasi Rutin dengan cakupan minimal 90%
  2. Lakukan RCA (Rapid Convienence Assesment) imunisasi di wilayah kasus, pada saat penyelidikan epidemiologi sebelum ORI dilakukan.
  • Segera lakukan ORI (Outbreak Response Imunization) :
    1. Dalam waktu sesingkat-singkatnya setelah KLB diumumkan.
    2. Ruang lingkup meliputi seluruh usia terdampak/umur kasus tertinggi.
    3. Luasnya ORI adalah pada wilayah KLB minimal 1 wilayah Puskesmas/Kecamatan.
    4. ORI dilakukan tanpa melihat cakupan imunisasi sebanyak 3 kali dan tanpa menunggu hasil laboratorium.
    5. Pemberian profilaksis pada kontak dengan eritromycin.
Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech