Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech
Selamat Datang
Selamat datang di website Bidang P2PL DInas Kesehatan Prov Kepri
Visi DInkes Prov Kepri

Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan Tersangka KLB Campak

Bagi negara yang telah menyelesaikan kampanye campak, maka surveilan campak harus dilaksanakan lebih sensitif, oleh sebab itu WHO merekomendasikan kriteria KLB campak yaitu 5 kasus campak/100.000 populasi. Di Indonesia walaupun kampanye campak sudah dilaksanakan namum kriteria seperti yang ditetapkan oleh WHO masih sulit diterapkan. Hal ini disebabkan populasi 100.000 kemungkinan terdistribusi di 3 Puskesmas, dan kasus campak masih cukup tinggi maka secara operasional akan sulit.

Untuk memudahkan operasional di lapangan, maka defenisi KLB Tersangka Campak ditetapkan sebagai berikut : Adanya 5 kasus atau lebih kasus klinis dalam waktu 4 minggu berturut-turut yang terjadi mengelompok dan dibuktikan adanya hubungan epidemiologi.

Berdasarkan laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) yang dapat di lihat di website : www.skdr.surveilans.org diketahui bahwa telah terjadi peningkatan kasus campak di Puskesmas Kawal yang dimulai pada minggu ke-4 epidemiologi terdapat ada 4 kasus campak klinis dan minggu ke-5 terdapat 6 kasus campak klinis walaupun kasus telah ada di minggu ke-1 dengan jumlah 1 kasus. Berdasarkan defenisi KLB tersangka Campak di atas maka wilayah kerja Puskesmas Kawal telah terjadi KLB tersangka Campak.

Dengan adanya laporan dari website SKDR maka Puskesmas Kawal, Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan dan Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan melakukan penyelidikan epidemiologi untuk mengetahui gambaran epidemiologi KLB berdasarkan waktu kejadian, umur dan status imunisasi penderita sehingga dapat diketahui luas wilayah yang terjangkit dan kelompok yang beresiko. Disamping itu juga untuk mendapatkan faktor resiko terjadinya KLB sehingga dapat dilakukan tindak lanjut.

Berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan pada tanggal 8 Februari 2017 didapatkan tambahan kasus di lapangan yaitu 2 kasus sehingga jumlah kasus s.d tanggal 8 Februari adalah 13 kasus. Berikut gambaran hasil penyelidikan epidemiologi di Puskesmas Kawal Kabupaten Bintan :

foto data 1

 

Selain diketahui gambaran epidemiologi KLB, didapatkan juga faktor resiko terjadinya kLB yaitu rendahnya cakupan imunisasi di Puskesmas Kawal terutama diwilayah kerja Posyandu Kencana 5 dengan gambaran sebagai berikut :

foto data 2.jpg

Penanggulangan KLB campak didasarkan pada analisis dan rekomendasi hasil penyelidikan epidemiologi Tersangka KLB Campak, dilakukan sesegera mungkin agar transmisi virus dapat dihentikan dan KLB tidak meluas serta membatasi jumlah kasus dan kematian.

Berdasarkan data di atas maka langkah penanggulangan yang dilakukan adalah :

  1. Tata laksana kasus dengan memberikan pengobatan simptomatis penderita yang tidak komplikasi, pemberian Vitamin A dosis tinggi sesuai usia dan mengambil sampel serum darah untuk dikirimkan ke Litbangkes Kemenkes RI
  2. Imunisasi : Respon Imunisasi pada Tersang

     

    ka KLB Campak dilakukan berdasarkan kajian cakupan imunisasi maupun faktor lain yang mempengaruhi terjadinya kasus campak. Kejadian di Puskesmas Kawal khususnya di wilayah kerja Posyandu Kencana 5 maka harus dilakukan ORI (Outbreak Response Imunization) masal dikarenakan cakupan imunisasi daerah tersebut < 80% dan jumlah balita rentan telah melebihi jumlah kohort bayi satu tahun.
  3. Penyuluhan kepada masyarakat.

                                                               

 

 

 Foto kegiatan

foto keg.jpg

Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech